Rabu, 25 April 2012

laporan penetapan kadar air tanah


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR – DASAR ILMU TANAH
ACARA II
PENETAPAN KADAR AIR TANAH



 









OLEH :
DEDE YUDO KURNIAWAN
A1L011043
ASISTEN :
1.       RATRI NOORHIDAYATI
2.       SEPTIA LINDA NURVITA
3.       SOFFA
4.       NOVA MARGARETH


KEMENTERIAN PENDIDKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2012










BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Berdasarkan gaya yang bekerja pada air tanah yaitu gaya adhesi, kohesi dan gravitasi maka air tanah dibedakan menjadi :
1.      Air higroskopis
2.      Air kapiler
3.      Air gravitasi
Air higroskopis
Air higroskopis adalah air yang diabsorbsi oleh tanah dengan sangat kuat, sehingga tidak tersedia bagi tanaman. Jumlahnya sanag sedikit dan merupakan selaput tipis yang menyelimuti agregat tanah. Air ini terikat kuat pada matriks tanah ditahan pada tegangan 31 – 10.000 atm ( pF 4,0 – 4,7 )
Air kapiler
Air kapiler adalah air tanah yang ditahan akibat adanya gaya kohesi dan adhesi yang lebih kuat dibandingakn gaya gravitasi. Air ini bergerak kesamping atau keatas karena gaya kapiler. Air kapiloer ini menempati pori mikro dan dinding pori makro ditahan pada tegangan antara 1/3 - 15 atm (pF 2,54 – 4,20 ).
Air kapiler dibedakan menjadi : Kapasitas lapang, yaitu air yang dapat ditahan oleh tanah setelah air gravitasi turun semua. Kondisi kapasitas lapang terjadi jika tanah dijenuhi air setelah hujan lebat tanah dibiarkan selama 48 jam sehingga air gravitasi sudah turun semua. Pada kondisi kapasitas lapang, tanah mengandung air yang optimum bagi tanaman karena pori makro berisi udara, sedangkan pori mikro berisi air seluruhnya. Kandungan air pada kapasitas lapang ditahan tegangan 1/3 atm atau pada pF 2,54. Titik layu permanen yaitu kandungan air tanah paling sedikit dan menyebabkan tanaman tidak mampu menyerap air sehingga tanaman mulai layu dan jika hal ini dibiarkan tanman akan mati. Pada titik layu permanen, air ditahan pada tegangan 15 atm atau pada pF 4,2. Titik layu permanen disenut juga koefisien layu tanaman.
Air gravitasi
Air gravitasi adalah air yang tidak dapat oleh tanah, karena mudah meresap kebawah akibat adanya gaya gravitasi. Air gravitasi mudah hilang dari tanah dengan membawa unsur hara seperti N, K, Ca sehungga tanah menjadi masam dan miskin hara.
B.     Tujuan
Menetapkan kadar air contoh tanah kering angin, kapasitas lapang dan kadar air maksimum tanah dengan metode gravimetri ( perbandingan massa air dengan massa padatan tanah ) ata disebut berdasarkan % berat.








BAB II
METODE KERJA

A.    Alat dan Bahan
Contoh tanah kering angin, botol timbang, timbangan analitis, keranjang kuningan, cawan tembaga porus, bejana seng, kertas label, spidol, pipet ukur 2 mm, bak perendam, serbet, kertas saring, oven, tang penjepit dan eksikator.

B.     Cara kerja
A. Kadar Air Tanah Kering Angin (Udara)
1) Botol timbang dan penutupnya dibersihkan, diberi label, lalu ditimbang (= a gram).
2) Botol timbang diisi dengan contoh tanah kering angin yang berdiameter 2 mm, kurang lebih setengahnya, ditutup, lalu ditimbang kembali (= b gram).
3) Botol timbang yang berisi tanah dimasukan ke dalam oven dengan keadaan tutup terbuka. Pengovenan dilakukanpada suhu 105-1100C selaqma minimal 4 jam.
4) Setelah waktu pengovenan selesai, botol timbang ditutup kembali dengan menggunakan tang penjepit.
5) Botol timbang yang telah ditutup dikeluarkan dari oven dengan menggunakan tang penjepit, lalu dimasukkan ke dalam eksikator selama 15 menit.
6) Setelah itu, botol timbang diambil satu persatu dengan menggunakan tang penjepit untuk ditimbang dengan timbangan yang sama (= c gram).
B. Kadar Air Kapasitas Lapang
1) Keranjang kuningan dibersihkan, diberi label kemudian ditimbang (= a gram)
2) Keranjang kuningan yang telah ditimbang diletakkan ke dalam bejana seng.
3) Contoh tanah kering angin  2 mm dimasukkan ke dalam keranjang kuningan setinggi 2,5 cm (sampai tanda batas) secara merata tanpa ditekan.
4) Diteteskan air sebanyak 2 mL dengan pipet ukur secara perlahan-lahan pada 3 titik tanpa persinggungan (1 titik = 0,67 mL ), kemudian bejana seng ditutup, dileltakkan ditempat yang teduh dan dibiarkan selama 15 menit.
5) Keranjang kuningan dikeluarkan dari bejana seng, diayak dengan hati-hati hingga tertinggal 3 gumpalan tanah lembab, lalu ditimbang (= b gram).
Perhitungan =
C.  Kadar Air Maksimum Tanah
1)      Cawan tembaga porus dan petridis dibersihkan dan diberi label secukupnya.
2)      Pada dasar cawan tembaga porus diberi kertas saring, dijenuhi air dengan menggunakan  botol semprot. Kelebihan air dibersihkan dengan serbet/lap, dimasukkan ke dalam petridis kemudian ditimbang (a=gram).
3)      Cwan tembaga porus dikeluarkan dari petridis, isi dengan contoh tanah halus (0,5 mm) kurang lebih 1/3 nya, cawan diketuk – ketuk perlahan sampai permukaan tanahya rata. Contoh tanah halus dtimbang lagi 1/3 nya dengan jalan yang sama sampai cawan tembaga porus penuh dengan tanah. Kelebihan tanah diatas cawan diratakan dengan colet.
4)      Cawan tembaga porus direndam dalam bak perendam dengan ditumpu batu dibawahnya agar air bebas masuk kedalam cawan tembaga porus. Perendaman dilakukan selama 12 – 16 jam.
5)      Setelah waktu perendaman selesai, cawan tembaga porus diambil dari bak perendam. Permukaan tanah yang mengembang diratakan dengan colet, dibersihkan dengan serbet (lap), dimasukkan kedalam cawan petridis yang digunakan pada waktu penimbangan pertama, lalu ditimbang (= b gram ).
6)      Cawan tembaga porus dimasukkan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu 105 - 110C.
7)      Setelah waktu pengovenan selesai, cawan diangkat dengan tang penjepit dn dimasukan kedalam eksikator selama 15 menit. Setelah itu diambil dengan tang penjepit kemudian ditimbang beratnya (= c gram ).
8)      Tanah yang ada di dalam cawan tembaga porus dibuang, cawan tembaga porus dibersuhkan dengan kuas, dialasi dengan petridis yang sama lalu ditimbang beratnya (= d gram ).
Perhitungan :
Kadar air maksimum =





                                                                                    










BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil Pengamatan
1.      Tanah Kering Udara
Ulangan
Botol timbang kosong (a gr)
(a)  contoh tanah (b gr )
(b)     setelah dioven
 (c gr)
Kadar air tanah kering udara (%)
Ka 1
22,4073
31,9128
30,83
12,85 %
Ka 2
27,6989
36,9773
35,93
12,72 %

Rata - rata
12,785 %

2.      Kapasitas Lapang
Ulangan
Keranjan kuningan kosong (a gr)
(a)    + gumpalan tanah basah (b gr)
Kadar air kapasitas lapang (%)
KL – 1
32,3832
38,1164
66,36 %
KL – 2
32,8969
38,1456
74,35 %

Rata – rata
70,355 %

3.      Kadar Air Maksimum
Ulanagn
Cawan+ kertas saring jenuh + petridish (a gr)
(a)    + tanah basah jenuh air (b gr)
(b)   Setelah dioven 24 jam (c gr)
Petridish + cawan +kertas saring setelah dioven (d gr)
Kadar air maksimum (%)
KAM – 1
62,4021
125,7018
88,2552
61,7357
138,69 %
KAM – 2
76,6135
112,3984
98,7120
72,7647
37,91 %

Rata –rata
88,3 %









B.     Pembahasan
Air tanah adalah air yang terdapat dalam lapisan tanah atau bebatuan di bawah permukaan tanah. Air dalam tanah menyebabkan partikel tanah mengembang dan mengkerut teikat satu sama lain membentuk struktur tanah. Air tanah merupakan salah satu sumber daya air yang keberadaannya terbatas dan kerusakannya dapat mengakibatkan dampak yang luas serta pemulihannya sulit dilakukan,sedangkan kadar air tanah adalah jumlah air yang terkandung didalam tanah per satuan tertentu. Air tanah juga berperan dalam reaksi-reaksi kimia tanah yang dapat melepaskan dan mengikat unsur hara dalam tanah dan melarutkan unsur-unsur hara dalam tanah sehingga menyebabkan kemasaman dan kebasaan dalam air tanah.
Kapasitas lapang adalah kandungan lengas maksimum yang terseia untuk pertumbuhan tanaman. Pengukuran dapat dilaksanakan dengan membasahi tanah sampai lewat jenuh kemudian dibiarkan air mengatur bebas karena gravitasi selama 48 jam. Pada kondisi ini tanah mengandung lengas maksimum yang tersedia untuk tanaman. Pori makro terisi udara, sedangkan pori mikro sebagian terisi air yang tersedia. Pada umumnya harkat kandungan lengas kapasitas lapang meningkat berdasarkan urutan-urutan : pasir < debuan < geluhan < lempung < gambut. Air tersedia merupakan selisih antara kapasitas lapang dan titik layu yang besarnya dipengaruhi tekstur, tetapi berbeda dengan kapasitas lapang. Sedangkan titik layu permanen merupakan pada titik terbawah daerah kelembaban yang tersedia. Suatu tanaman akan layu bila tidak bisa memperoleh air yang dibutuhkan. Kelayakan sementara akan terjadi pada banyak tanaman pada suatu hari yang panas dan angin bertiup, tetapi tanaman pulih kembali. Pada saat hari yang lebih sejuk kelayuan permanen begitu pula kelayuan sementara tergantung pada besarnya pemakaian air oleh tanaman (Sambroek, 1969).
Faktor – faktor yang mempengaruhi ketersediaan air tanah antara lain :
(1) Tekstur tanah
(2) Kadar bahan organic tanah
(3) Senyawa kimia
(4) Kedalaman solum
selain faktor diatas ketersediaan air tanah juga dipengaruhi oleh iklim dan tanaman ,faktor iklim yang berpengaruh meliputi curah hujan,temperatur,dan kecepatan angin,yang pada prinsipnya terkait dengan suplai air dan evapotranspirasi.Faktor tanaman yang berpengaruh meliputi bentuk dan kedalaman perakaran,toleransi terhadap kekeringan,serta tingkat dan stadia pertumbuhan,yang pada prinsipnya terkait dengan kebutuhan air tanaman.(Hanafiah K.A. 2005).
Kadar air maksimum suatu jenis tanah ditentukan oleh daya hisap matriks atau partikel tanah, kedalaman tanah dan pelapisan tanah (Hakim, 1986). Tektur tanah yang halus menyebabkan menyebabkan porositasnya rendah sehingga mampu menahan air. Tinggi rendahnya kadar air maksimum tergantung juga pada jenis tanah, sebab tanah juga mempunyai tekstur yang berbeda pula.








Tabel nilai stera macam – macam tenaga ( kuantitatif ) ( Brady,1974 ).
Tinggi satuan kolom air (cm)
Logaritma tinggi kolom air
( pF )
Atm = bar
10
1
0,01
100
2
0,01
346
2,53
1/3
1 000
3
1
10 000
4
10
15 849
4,18
15
31 623
4,5
31
1 00 000
5
100
1 000 000
6
1 000
10 000 000
7
10 000

Lengas higroskopik terikat pada gaya ≥ 31 atm, lengas kaplier pada kisaran gaya 31 – 0,1 atm, lengas gravitasi pada kisaran ≥ 0,1 atm. ( Notohadipoero, 1986 ).
Pada saat praktikum kadar air tanah kita menggunakan jenis tanah vertisol. Dibwah adalah pengertian secara lengkap.
 Vertisol
Tanah yang termasuk ordo Vertisol merupakan tanah dengan kandungan liat tinggi (lebih dari 30%) di seluruh horison, mempunyai sifat mengembang dan mengkerut. Kalau kering tanah mengkerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras. Kalau basah mengembang dan lengket. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Grumusol atau Margalit.
Pembentukan tanah
Pembentukan tanah vertisol terjadi melalui dua proses, yaitu terakumulasinya mineral liat 2 : 1 dan proses mengembang dan mengkerut yang terjadi secara periodik, sehingga membentuk slinckenside atau relief mikro gilgai. Lebih lanjut dikatannya bahwa ketika basah tanah menjadi sangat lekat dan plastis, tetapi kedap air. Namun, saat kering tanah menjadi sangat keras dan masif, atau membentuk pola prisma yang terpisahkan oleh rekahan. (Hardjowigeno 1993) menyatakan bahwa faktor penting dalam pembentukan tanah ini adalah adanya musim kering di setiap tahun, meskipun lama musim kering tersebut bervariasi. Di daerah yang paling kering, tanah hanya paling basah tanah hanya kering selama beberapa minggu setiap tahun.
Penyebaran
Tanah-tanah ini banyak ditemukan kebanyakan di NTT(0.198 juta ha),Jawa Timur(0.96 juta ha),NTB(0.125 juta ha),Sulawesi Selatan(0.22 juta ha),dan Jawa Tengah(0.4 juta ha) (Subagyo et al. 2004).
Karakteristik/sifat tanah
Tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang tinggi. Reaksi tanah bervariasi dari asam lemah hingga alkaline lemah; nilai pH antara 6,0 sampai 8,0. pH tinggi (8,0-9,0) terjadi pada Vertisol dengan ESP yang tinggi (Munir, 1996).
Vertisol menggambarkan penyebaran tanah-tanah dengan tekstur liat dan mempunyai warna gelap, pH yang relatif tinggi serta kapasitas tukar kation dan kejenuhan basa yang juga relatif tinggi. Vertisol tersebar luas pada daratan dengan iklim tropis dan subtropis (Munir, 1996).
Namun untuk mengetahui pengertian jenis tanah yang lain yang digunakan untuk praktikum kami sajikan dibawah ini :
1.      Entisol
merupakan tanah yang baru berkembang. Walaupun demikian tanah ini
tidak hanya berupa bahan asal atau bahan induk tanah saja tetapi harus sudah terjadi
proses pembentukan tanah yang menghasilkan epipedon okhrik. Banyak tanah Entisol
yang digunakan untuk usaha pertanian misalnya di daerah endapan sungai atau daerah
rawa-rawa pantai. Padi sawah banyak ditanam di daerah-daerah Aluvial ini
(Hardjowigeno, 1993).
2.      Ultisol
Tanah yang termasuk ordo Ultisol merupakan tanah-tanah yang terjadi penimbunan liat di horison bawah, bersifat masam, kejenuhan basa pada kedalaman 180 cm dari permukaan tanah kurang dari 35%. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Podzolik Merah Kuning, Latosol, dan Hidromorf Kelabu.
3.      Inseptisol
Tanah yang termasuk ordo Inceptisol merupakan tanah muda, tetapi lebih berkembang daripada Entisol. Kata Inceptisol berasal dari kata Inceptum yang berarti permulaan. Umumnya mempunyai horison kambik. Tanah ini belum berkembang lanjut, sehingga kebanyakan dari tanah ini cukup subur. Padanan dengan sistem klasifikasi lama adalah termasuk tanah Aluvial, Andosol, Regosol, Gleihumus, dll.
4.      Andisol
Tanah yang termasuk ordo Aridisol merupakan tanah-tanah yang mempunyai kelembapan tanah arid (sangat kering). Mempunyai epipedon ochrik, kadang-kadang dengan horison penciri lain. Padanan dengan klasifikasi lama adalah termasuk Desert Soil.








BAB IV
KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, maka dapat diambil kesimpulan :
1.      Diperoleh kadar air contoh tanah keringnya adalah 12,785 %
2.      Diperoleh kadar air kapasitas lapangya adalah 70,355 %.
3.      Diperoleh kadar air maksimum tanahnya adalah 88,3 %.
4.      Lengas higroskopik terikat pada gaya ≥ 31 atm, lengas kaplier pada kisaran gaya 31 – 0,1 atm, lengas gravitasi pada kisaran ≥ 0,1 atm.





















DAFTAR PUSTAKA
Brady, N.C. 1974. The Nature and Prpoerties of Soils. 8th edition. MacMillan Publishing Co. Inc :New York
Hakim, N. Et all. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung : Lampung.
Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajawali Pers : Jakarta.
Hardjowigeno, S. 1993. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo : Jakarta
Munir, M., 1996. Tanah-Tanah Utama Indonesia. PT. Dunia Pusataka Jaya : Jakarta
Notohadiprawiro, T. 1986. Pengantar Ilmu Tanah . Departemen Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian. Universitas gadjah mada : Yogyakarta
Sambroek . 1967 . Amazon Soils . Centre for Agricultural Publivatins and Documentation .





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar